BUPER LELES MAJALENGKA
Buper (Bumi Perkemahan) Leles merupakan obyek daya tarik wisata yang terdapat di Desa Padaherang, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka. Buper Leles diresmikan pada tanggal 18 September 2013. Buper Leles memiliki luas 5 Ha dengan area yang sudah dimanfaatkan yaitu seluas 2 Ha. Buper Leles ini terletak di tiga blok di kawasan Desa Bantaragung yaitu Blok Desa, Blok Baligo, dan Blok Heuleut. Buper ini dinamakan ‘Leles’ karena di dalam area buper ini terdapat Pohon Leles yang menurut masyarakat setempat pohon ini hanya terdapat dua pohon di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai yang lainnya terdapat di daerah Pasawahan. Tidak jauh dari Buper ini terdapat air terjun yang berjarak kurang lebih 200 meter dari area buper. Air terjun ini dinamakan air terjun Leles. Air terjun ini memiliki tinggi sekitar lima belas meter dengan debit air yang cukup deras.
Keunggulan dari Buper Leles ini adalah melimpahnya sumber air yang tersedia untuk kebutuhan pengunjung Buper Leles. Sumber air ini berasal dari sungai yang membelah kawasan buper Leles. Air terjun Leles juga alirannya berasal dari sungai ini. Akses menuju Buper Leles ini cukup mudah dijangkau dari Desa Bantaragung. Akses yang mudah ini meningkatkan jumlah kunjungan ke Buper maupun Air Terjun Leles ini. Daya tarik lainnya yang terdapat di kawasan ini yaitu pohon Leles yang cukup besar dan terlihat mencolok dibandingkan dengan tumbuhan di sekitarnya, selain itu karena di dalam kawasan TNGC ini pohon Leles hanya terdapat dua buah sehingga menambah daya tarik dari segi indikator kelangkaan objek.
Fasilitas
Fasilitas yang terdapat di Buper Leles ini yaitu, musholla, aula, tempat sampah, lampu penerangan, lahan Parkir, jembatan, kantin, papan interpretasi, MCK, outbond area, camping spot, lapangan, dan pos tiket.
A. Musholla
Musholla yang terdapat di Buper Leles terbuat dari bambu untuk dan juga triplek yang beralaskan batu kali. Atap dari musholla ini terbuat dari asbes. Terdapat satu buah musholla yang terdapat di Buper Leles ini. Musholla ini mampu untuk menampung 15 orang secara dimensional ruangan dan 10 orang secara ukuran psikologis.
B. Aula
Aula yang terdapat di Buper Leles ini bernama Aula Lestari. Aula ini merupakan bangunan yang memiliki pondasi kayu yang berjumlah enam buah. Aula ini beralaskan batu kali yang pada bagian atasnya telah dilapisi semen dan diratakan. Atap dari aula ini terbuat dari asbes. Aula ini kondisinya cukup baik tetapi kurang luas untuk mengakomodir pengunjung. Aula ini cukup untuk menampung 20-30 orang. Aula ini dapat digunakan oleh pengunjung untuk beristirahat atau sekedar berkumpul dan mengobrol.
C. Tempat Sampah
Tempat sampah yang terdapat di Buper Leles tersebar di beberapa penjuru buper. Tempat sampah yang berada di kawasan ini berupa trash bag yang digantung atau diletakkan di dekat dengan pohon. Tempat sampah di kawasan Buper Leles ini jumlahnya tidak terlalu banyak sehingga akan menyulitkan bagi pengunjung untuk menjangkau tempat sampah tersebut.
D. Lampu Penerangan
Lampu penerangan di Buper Leles ini diletakkan di lokasi-lokasi tertentu yang minim penerangan dan juga di camping spot. Lampu yang disediakan menggunakan lampu neon yang digantung dengan kawat dan dilapisi dengan botol air mineral agar tidak basah. Lampu ini dapat memudahkan pengunjung untuk melakukan kegiatan saat malam hari.
E. Lahan parkir
Lahan parkir Buper Leles ini terletak di depan dari kawasan Buper Leles sehingga memudahkan bagi pengunjung untuk parkir karena lokasi lahan parkirnya yang tidak terlalu jauh dari Buper. Lahan parkir ini terletak di antara pohon pinus sehingga suasana lahan parkir ini sejuk dan tidak panas. Lahan parkir ini mampu untuk menampung hingga 200 kendaraan roda dua dan 40 mobil pribadi.
F. Jembatan
Jembatan yang terdapat di Buper Leles saat ini merupakan jembatan darurat yang terbuat dari bambu. Jembatan darurat ini dibangun karena jembatan yang sudah ada terkena dampak banjir besar sehingga menghanyutkan jembatan tersebut. Jembatan ini membelah sungai yang terdapat di Buper Leles. Jembatan ini memiliki panjang sekitar 15 meter dan menghubungkan antara pos tiket dengan lokasi camping. Jembatan ini kondisinya kurang baik karena terkesan kurang kuat. Jembatan ini juga hanya terdapat satu buah sehingga menyulitkan untuk sirkulasi pengunjung.
G. Kantin
Kantin di Buper Leles ini berjumlah lima kantin. Kantin ini terbentuk dari kerjasama pihak pengelola dengan desa. pengelolaan kantin ini berdasarkan kesepakatan pihak pengelola daengan pihak blok desa yang berdekatan dengan Buper Leles ini. Blok tersebut yaitu, blok desa, blok baligo, dan blok heuleut dengan masing-masing kantin dikelola oleh blok yang berbeda. Bahan baku pembangunan kantin ini menggunakan bahan-bahan alami seperti bambu, papan, dan kayu lainnya.
H. Papan Informasi dan Papan Petunjuk
Papan interpretasi bertujuan untuk memberikan informasi kepada pengunjung secara tertulis melalui papan. Sedangkan papan petunjuk bertujuan untuk memberikan petunjuk arah yang dapat memudahkan pengunjung untuk menuju lokasi tertentu. Papan ini pada umumnya terbuat dari papan kayu yang dibentuk sedemikian rupa berbentuk seperti arah panah.sedangkan untuk papan informasi ada yang terbuat dari papan, tetapi ada juga yang terbuat dari kertas ataupun berbentuk stiker.
I. MCK
MCK di Buper Leles dinilai cukup memadai dan mampu untuk mengakomodir kebutuhan pengunjung ataupun bagi orang yang melakukan kegiatan camping. MCK ini sudah tersebar di setiap blok dari Buper Leles. MCK ini dibangun dengan material bangunan permanen sehingga lebih kuat dan tidak mudah rusak. MCK dibangun dengan konsep satu bak untuk dua pintu MCK yang saling membelakangi. Bak tersebut dibatasi oleh partisi. Hal ini bertujuan untuk menghemat biaya pembangunan dan menambah jumlah dari MCK ini.
J. Area Outbond
Area outbond ini terletak dekat dengan sungai dan memiliki area yang cukup luas. Terdapat beberapa peralatan outbond yang disediakan pengelola diantaranya, jembatan gantung, jarring laba-laba, dan sebagainya. peralatan outbond ini dibuat menggunakan baha-bahan yang cenderung alami seperti, bambu, kayu, dan papan. Area outbond ini dapat digunakan oleh pengunjung untuk melaksanakan kegiatan di luar ruangan.
K. Camping Spot
Area ini khusu ditujukan bagi pengunjung yang ingin berkemah. Area kemah ini berbeda dibandingkan dengan yang lainnya karena lokasi pembangunan tendanya sudah disediakan yang lahannya disesuaikan dengan ukuran tenda yang biasa digunakan. Ukuran lahan kemah ini yaitu 2.60 meter dikali 2.80 meter. Area berkemah ini dibagi menjadi tiga area yaitu blok A, B, dan C. untuk saat ini area berkemah blok C belum dapat digunakan karena dikhawatirkan akan terjadi banjir. Blok A dapat menampung 500-600 orang atau 40-60 unit tenda. Blok B mampu untuk menampung 200-300 orang atau 20-30 tenda.
L. Lapangan
Lapangan yang terdapat di Buper Leles berjumlah dua buah lapangan. Lapangan yang pertama berada di dekat dari camping site blok A, dan lapangan lainnya berada dekat dengan camping site blok B. lapangan di blok A lebih luas dibandingkan yang berada di blok B. lapangan ini memiliki kontur yang datar an ditumbuhi oleh rerumputan. Terdapat juga bebatuan yang sengaja tidak dipindahkan oleh pihak pengelola. Lapangan ini telah dilengkapi dengan tiang bendera yang dapat digunakan untuk kegiatan upacara.
M. Pos Tiket
Pos tiket ini merupakan sebuah bangunan dengan ukuran 2x2 meter. Pos tiket ini berfungsi sebagai pintu masuk dari kawasan Buper Leles ini. Bangunan pos tiket ini terbuat dari papan dan juga tembok. Atap dari bangunan ini terbuat dari asbes. Pos tiket ini juga sebagai tempat bagi petugas tiket untuk berjaga di pintu masuk.
Pengelolaan
Sejarah pembentukan dan pengelolaan dari Buper Leles ini berasal dari sekelompok masyarakat dari Desa Padaherang yang berkeinginan untuk memanfaatkan lahan yang ada untuk dijadikan Bumi Perkemahan. Keinginan dari masyarakat ini mendapatkan dukungan dari Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), kemudian masyarakat mengajukan izin pada tahun 2011. Pengajuan izin ini kemudian direspon oleh pihak Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang mengeluarkan izin pada tahun 2013 untuk kemudian Bumi Perkemahan Leles ini diresmikan pada tanggal 18 September 2013.
Buper Leles memiliki 25 orang pengelola aktif yang tergabung dalam Mitra Pariwisata Gunung Ciremai (MPGC) Bumi Perkemahan Curug Leles. Terdapat delapan pengurus inti yang terdiri dari ketua, walil ketua, sekretaris, bendahara, sie kebersihan, sie humas, sie kemanan, sie peralatan, dan sie promosi. Koordinator dari setiap seksi ini membawahi anggota lainnya. Terdapat 4-6 orang yang bertugas piket setiap harinya dan 1-2 orang yang menjadi resepsionis untuk melayani pemesanan camping site. Resepsionis dan piket ini berjaga selama 24 jam saat ada kegiatan. Struktur organisasi Buper Leles Gambar…
Pengelolaan distribusi penerimaan tiket jasa wisata alam dibagi menjadi dua yaitu, tiket perkemahan khusus sebesar Rp 9.500,- (PNBP & asuransi Rp 5.500,-), dan tiket perkemahan rombongan sebesar Rp 12.000,- (PNBP & asuransi Rp 3.000,-) dengan rincian distribusi sebagai berikut, Tabel…
Tiket Perkemahan Khusus
No Peruntukan Besarnya Keterangan
1 Biaya operasional pengelola Rp 4.000,- • Pemberdayaan masyarakat
• Kebersihan lingkungan wisata
• Operasional pengelola (ID Card, seragam, dll
2 Kontribusi/operasional Desa Padaherang Rp 1.500,- • Kegiatan sosial dan pemberdayaan
• Pembangunan dan pemeliharaan fasilitas desa
• Karang taruna
3 Penyerta modal, promosi, dan publikasi Rp 1.000,- Dokumentasi dan media informasi (Brosur, Leaflet, Booklet, dll)
4 Penataan, pemeliharaan dan pengembangan ODTWA Rp 1.500,-
5 Konservasi dan Koordinasi Rp 1.500,- • Koordinasi dengan MUSPIKA (Polsek, Koramil, dan Puskesmas)
• Donasi sosial
• Cash back
• Konservasi hutan
Tiket Perkemahan Rombongan
No Peruntukan Besarnya Keterangan
1 Biaya operasional pengelola Rp 5.000,- • Pemberdayaan masyarakat
• Kebersihan lingkungan wisata
• Operasional pengelola (ID Card, seragam, dll
2 Kontribusi/operasional Desa Padaherang Rp 1.500,- • Kegiatan sosial dan pemberdayaan
• Pembangunan dan pemeliharaan fasilitas desa
• Karang taruna
3 Penyerta modal, promosi, dan publikasi Rp 1.500,- Dokumentasi dan media informasi (Brosur, Leaflet, Booklet, dll)
4 Penataan, pemeliharaan dan pengembangan ODTWA Rp 2.000,-
5 Konservasi dan Koordinasi Rp 2.000,- • Koordinasi dengan MUSPIKA (Polsek, Koramil, dan Puskesmas)
• Donasi sosial
• Cash back
• Konservasi hutan
Hambatan
1. Aksesibilitas
Aksesibilitas untuk menuju ke Buper Leles ini menjadi hambatan dalam menarik minat pengunjung untuk datang ke Buper Leles ini. Akses masih belum baik, sempit dan berbatu sehingga menyulitkan pengunjung untuk datang. Bus juga belum dapat masuk ke buper ini dan maksimal adalah kendaran bus ¾.
2. Konflik dengan masyarakat
Konflik dengan masyarakat ini terjadi karena kurangnya koordinasi dari pihak pengelola dengan masyarakat desa. banyak terjadi kasus di mana pengunjung yang ingin ke Buper Leles dialihkan ke objek wisata yang berada di desa mereka dan mengangap bahwa lokasi mereka adalah Buper Leles. Juga sering terjadi pungutan liar yang dilakukan oleh masyarakat.
3. Banjir
Banjir kerap terjadi di Buper Leles ini. Luapan sungai saat hujan deras terjadi merupakan suatu hal yang tidak dapat diantisipasi lagi. Jika banjir datang maka air akan naik hingga mendekati ke area berkemah. Bahkan banjir dapat menggenangi area musholla dan kantin. Banjir juga sempat menghanyutkan jembatan yang menghubungkan antara pos tiket dengan area berkemah.
4. Permasalahan internal
Permasalahan internal ini merupakan salah satu penghambat dalam pembangunan. Saat ada beberapa orang yang memiliki inisiatif untuk membangun atau bekerja, pihak lain tidak bersedia membantu dengan beragam alasan. Tentu hal ini dapat menghambat percepatan pembangunan objek, dan menghambat dalam proses pemeliharaan objek yang kurang maksimal
Kritik
1. Potensi yang ada harus lebih dikembangkan lagi contohnya air terjun, yang terlihat belum memadai bagi pengunjung. Pengembangan kawasan agar lebih maksimal, serta pembangunan kawasan agar lebih menarik minat pengunjung
2. Aksesibilitas perlu adanya pembenahan agar memudahkan dalam mencapai lokasi ini
3. Penanggulangan banjir dilakukan agar pengunjung tidak merasa khawatir akan terjadinya banjir saat sedang dilakukan suatu kegiatan
4. Tambahan akomodasi dan fasilitas untuk memuaskan pengunjung
5. Penataan jalur menuju ke objek-objek seperti ke air terjun, Pohon Leles, dan sebagainya agar memudahkan pengunjung untuk menuju ke objek tersebut.
6. Tambahan papan petunjuk menuju objek yang telah disebutkan di poin 5. Papan petunjuk juga perlu ditambahkan di lokasi-lokasi tertentu untuk memudahkan pengunjung dalam menemukan lokasi Buper Leles ini.
7. Koordinasi dengan masyarakat desa dan desa akses masuk untuk menanggulangi konflik
8. Pembangunan jembatan agar lebih dapat mengakomodir pengunjung dan menambah estetika dari Buper Leles.
Saran
1. Pengembangan objek seperti air terjun dan Pohon leles dapat dilakukan dengan pembenahan akses, pembersihan lokasi, dan penambahan papan petunjuk arah
2. Akses dapat dibenahi dengan pelebaran jalan, dan pembenahan agar jalan dapat lebih rata dan tidak bergelombang
3. Penanggulangan banjir dapat dilakukan dengan menambah tinggi dari pantaran sungai, pemindahan fasilitas menjauhi sungai, dan lokasi kemah yang tidak terletak di dekat sungai untuk keamanan pengunjung
4. Akomodasi dan fasilitas yang ditambahkan yaitu kantin, gapura, penambahan MCK, jalur, jalan setapak, dan pembangunan musholla agar lebih memadai.
5. Penataan jalur diperlukan untuk memperjelas lokasi-lokasi yang menjadi objek wisata serta mengatur dari sirkulasi pengunjung.
6. Papan petunjuk dapat disebar ke semua titik. Serta penambahan papan petunjuk menuju lokasi yang diletakkan di jalan raya serta persimpangan jalan.
7. Musyawarah dapat dilakukan agar mengurangi konflik dengan masyarakat dan membantu masyarakat untuk sama-sama membangun kawasan
8. Jembatan yang tersedia saat ini merupaka jembatan darurat. Pembangunan dapat dilakukan dengan bahan-bahan kayu yang dibentuk sedemikian rupa agar dapat mengakomodir sirkulasi pengunjung dan menambah estetika dari kawasan buper leles
Master Plan
Master plan wisata merupakan suatu susunan konsep yang akan diimplementasikan di suatu destinasi wisata yang bertujuan untuk memperbaiki dan menyempurnakan segala sesuatu yang berada di destinasi wisata tersebut. Dibutuhkan konsep yang matang agar dapat diimplementasikan dengan baik di destinasi tersebut. Perencanaan di Buper Leles merupakan sebuah upaya untuk memperbaiki, memperindah, serta menambah daya tarik dari Buper Leles. Perencanaan ini melibatkan segala sumberdaya yang telah tersedia di Buper Leles yang kemudian ditambahkan untuk menambah estetika dan fungsi dari Buper Leles. serta meningkatkan efektifitas dan efisiensi pemanfaatan site dari Buper Leles.
Perencanaan yang akan dirancang untuk Buper Leles ini memiliki tujuan untuk:
1. Pemanfaatan site secara efektif dan efisien
2. Penanggulangan bencana banjir
3. Inovasi untuk menambah daya tarik
4. Penambahan fasilitas
Rencana yang akan dibangun yaitu, penyempurnaan fasilitas, coffee shop, Jembatan pandang, dan Taman Leles. perencanaan tersebut dapat dilihat pada Gambar..
Pembahasan dari masing-masing perencanaan dapat dilihat pada sub-bab yang menjelaskan tentang master plan.
1. Penyempurnaan Fasilitas
Penyempurnaan fasilitas ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk menambahkan, mengubah, dan memindahkan tata letak yang telah ada saat ini. Fasilitas yang ditambahkan yaitu gapura. Gapura akan diletakkan di depan pos tiket, pembangunan gapura ini bertujuan untuk mengukuhkan posisi Buper Leles sebagai bumi perkemahan yang dikelola secara professional, dan berfungsi juga untuk memperindah dari pintu masuk Buper Leles. gapura ini akan terbuat dari bambu yang dibentuk sedemikian rupa. Pos tiket juga akan dipugar dan akan dilakukan perluasan untuk memberikan kenyamanan bagi petugas tiket. Bangunan ini akan menganut konsep modern minimalis.
Bangunan yang akan dilakukan penambahan yaitu musholla dan MCK. Musholla direncanakan akan ditambahkan sehingga setiap blok camping site memiliki musholla sendiri. Musholla ini juga akan ditambahkan daya tampungnya sehingga dapat mengakomodir pengunjung. Bentuk bangunan musholla tidak dirubah dan tetap mempertahankan konsep lama. MCK juga akan ditambahkan pada setiap camping site yaitu berjumlah 10 pintu per camping site. Hal ini dimaksudkan agar tiak adanya penumpukan pengunjung yang akan menggunakan MCK saat adanya kegiatan berkemah.
Jembatan juga akan dibuat dan ditambahkan jumlahnya sehingga akan terdapat dua buah jembatan yang menghubungkan antara jalan dengan lokasi berkemah. Bangunan jembatan ini akan menggunakan bambu yang didesain agar mampu untuk load pengunjung dan mempermudah dalam sirkulasi pengunjung. Fasilitas pembangkit listrik menggunakan turbin juga akan ditambahkan di Buper Leles. tujuannya untuk menambah daya listrik di Buper Leles ini dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan listrik yang berasal dari masyarakat. aula juga akan dibangun pada tiap blok untuk memudahkan pengunjung dalam melakukan kegiatan.
2. Coffee Shop
Coffee Shop ini merupakan suatu inovasi yang akan dibangun di kawasan Buper Leles ini. Pembangunan Coffee Shop ini diharapkan mampu untuk meningkatkan jumlah kunjungan ke Buper Leles ini. Coffee Shop ini akan dikonsep sederhana tetapi menarik dan bangunan yang akan digunakan akan menggunakan bahan-bahan alami. Pondasi bangunan akan menggunakan batu kali, sedangkan temboknya akan menggunakan bambu dan papan, sedangkan atapnya akan terbuat dari bahan ijuk.
Coffee Shop ini akan menyajikan kopi tradisional asli indonesia dan juga makanan khas tanah sunda. Coffee Shop ini juga dilengkapi bangku dan meja yang terbuat dari bahan alami. Diharapkan kehadiran Coffee Shop ini akan menambah jumlah kunjungan dan juga memperkenalkan kopi asli dari berbagai daerah di indonesia dan juga makanan khas tanah sunda.
3. Jembatan Pandang
Jembatan pandang merupakan fasilitas yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk dapat melihat keindahan air terjun Leles dari atas. Jembatan pandang ini dibangun karena akses yang cukup sulit untuk menuju air terjun sehingga dibutuhkan alternatif lain untuk dapat menikmati air terjun. Alternatif yang dinilai dapat diimplementasikan yaitu jembatan pandang. Jembatan ini akan melintang di antara dua tebing yang menjadi sisi-sisi dari air terjun leles ini.
Jembatan pandang ini akan terbuat dari bambu dan terletak sejauh 15 meter dari air terjun agar posisinya tepat untuk dilihat oleh pengunjung. Jembatan ini juga dapat menjadi pintu masuk menuju Taman Leles yang terletak dekat dengan air terjun ini. Hadirnya jembatan ini diharapkan mampu untuk membiaskan penumpukan pengunjung di bawah dan mengatur sirkulasi pengunjung. Jembatan ini juga di desain agar dapat menjadi spot yang bagus untuk berfoto dan menikmati pemandangan curug.
4. Taman Leles
Taman leles akan dibangun mengelilingi pohon leles. taman ini memiliki konsep radial yang di tengah-tengah taman ini terdapat pohon leles. taman ini dibangun dengan tujuan untuk memperkenalkan pohon leles yang menjadi ikon dan juga asal muasal dari nama bumi perkemahan ini. Akses menuju taman leles ini akan menggunakan batu alam dengan jalSan yang disusun rapi menuju langsung ke taman leles ini.
Taman ini akan dilengkapi dengan lampu taman, tanaman hias, dan juga bangku taman yang terbuat dari kayu. Dalam taman ini juga akan dibuat sebuah kolam yang diisi oleh ikan hias dan dilengkapi dengan air mancur untuk menambah keindahan dari taman leles. lampu sorot juga akan diletakan mengelilingi Pohon Leles ini yang bertujuan untuk melihat pohon leles ini saat malam hari dan mempertegas bahwa pohon leles ini merupakan ikon dari Buper Leles ini.

0 komentar:
Posting Komentar